Monthly Archives: November 2014

Tulisan Mahasiswa

Granada yang Kelabu: Hari-Hari Terakhir Ketika Islam dan Peradabannya Tercabut dari Bumi Spanyol

Published by:

Oleh: Gun Gun Gunawan

Semenjak runtuhnya kehalifahan banu Umayah di Cordoba abad ke 11, saat itu pula penaklukan kembali (reconquista) oleh kaum Kristen dimulai. Saat itu andalusia terbagi menjadi  beberapa kerajaan kecil (a-muluk at-thawaif) yang saling bermusuhan.  Pada abad ke -13, kondisi ini dimanfaakan oleh kerajaan Castil dan Leon yang baru bersatu untuk menghancurkan peradaban arab-islam untuk selama-lamanya. Pada pertengahan abad ke -13 penaklukan itu hampir sukses, hanya Granada yang masih dikuasai oleh Muslim. Toledo direbut pada 1085, diikuti Cordoba pada 1236, dan Seville pada 1248.

Perkawinan Ferdinad dari Aragon dan Isabela dari Castile tahun 1469 merupakan lonceng kematian bagi kekuasaan Islam di Spanyol yang terakhir, Granada. Para Sultan Nashiriah, sultan-sultan Granada sama-sekali tidak bisa menanggulangi bahaya ini. Para sultan terebut terlibat konflik internal yang menyebabkan mereka semakin lemah. Ditengah-tengah konflik intrenal dan perang sudara, pasukan Ferdinand-Isabela merensek masuk dan merebut kota-kota Granada. Kota-kota dihancurkan dan penduduknay dijadikan budak. Tidak mmapu menghadapi pasukan Kristen, sultan Granada al-Zaghall menyeru raja-raja muslim di afrika untuk mambantunya, namum permintaan ini tidak terkabul, karena mereka sedang sibuk dengan perang diantara mereka sendiri. Akhirnya ia menyerah dan ditawan hingga akhir hayatnya.

al-Hambra-Granada, benteng pertahanan terakhir Muslim di Spanyol

Setelah al-Zaghalll dikalahkan, Abu Abdullah (Boabdil) diminta untuk mnyerahkan Granada kepada Kristen. Namun ia menolak hingga Ferdinand mengirim pasukan dengan 10 Ribu kuda untuk kembali menyerang Granada. Seperti penyerangan sebelumnya ia menghancurkan ladang pertanian dan kebun buah-buahan, kemudian mengepung benteng terakhir pertahanan umat Islam di Spanyol dengan sangat ketat. Saat musing dingin terus bergerak membawa hawa dingin dan salju tebal, seluruh jalan masuk dari luar dipalang, makanan menjadi sangat jarang, harga-haraga membumbung tinggi, dan kemelaratan merabak. Semetara itu pasukan Kristen telah merebut seluruh tanah diluar tembok kota, sehingga pihak yang dikepung tidak bisa bercocok tanam atau memperoleh hasil panen. Kondisi kian memburuk, hingga pada bulan Desember 1491 kesengsaraan mencapai puncaknya.

Akhirnya pasukan Muslim sepekat menyerah dan diberi waktu 2 bulan untuk meninggalkan Granada, dengan persyaratan bahwa sultan dan seluruh pejabatnya harus mengucapkan sumpah setia kepada raja-raja Kristen, Sultan Boabdil akan diberi sebidang tanah di Alpujjaras, dan orang islam akan dijamin kebebasan beragamanya. Ketika genjatan sejata berakhir dan tidak ada tanda-tanda serangn dari Turki maupun Afrika, orang Castile mulai memasuki Granada pada 2 Januari 1492. Setelah Salib-salib mengantikan bulan Sabit di menara-menara di kota itu.

Sultan beserta ratunya, dengan mengenakan pakaian bagus meninggalkan benteng merahnya-al-Hambra-ditengah-tengah rombongan megah untuk tidak pernah kembali. Saat beranjak pergi, Ia menolehkan wajhanya sejenak, melayangkan pandangan terakhirnya ke ibukotanya itu, menarik nafas panjang, dan akhirnya ledak dalam tangis. Dikisahkan bahwa Ibu sang Sultan menatp kepadanya dan berkata “Kau bisa menangis dengan baik layaknya seorang perempuan atasa semua yang  tidak bisa kau pertahankan sebagai seorang laki-laki. Dataran tinggi berbatu tempat sultan melayngkan pandangan terakhir yang mnyedihkan itu dikenal sampai sekarang dengan nama El Ultimo Suspiro del Moro, desahan terakhir sang Moor.  Pada mulanya sultan Boabdil tinggal di tanah yang telah dijatahkan untuknya, tetapi kemudian pergi memencilkan diri ke Fes, Maroko samapi akhir hayatnya pada tahun 1533.

Boabdil, Sultan terakhir Granada

Raja tertinggi Kristen, Ferdinand dan Isabela melanggar perjanjian yang telah disepakati. Di bawah kepimimpinan seorang pendeta kepercayaan sang ratu, Kardinal Ximenez de Cisneros, sebuah kampanye untuk memaksa perpindahan agama dijalankan pada 1499. Buku-buku berbahasa Arab ditarik dari peredaran dan dibakarnya. Granada menjadi medan api unggun tempat pembakaran naskah-naskan Arab. Inquisi ini kemudian dilembagakan dan terus dijalankan. Semua Muslim yang tetap tinggal di Granada setelah penaklukan Kristen disebut Moriscos, sbuah ama yang awalnya diterapkan untuk orang-orang Spanyol yang memeluk Islam. Orang Spanyol muslim berbicara dalam bahasa Romawi tetapi menulis dalam aksara Arab. Banyak orang Spanyol muslim “diingatkan” bahwa leluhur mereka adalah Kristen, dan harus tunduk pada baptisme, atau kalau tidak mereka akan merasakan akibat buruknya.

Orang Arab, maupun Muslim Spanyol yang tetap berpegang teguh pada Islam tetap menjalankanya dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengaku kristen tetapi secara diam-diam mempraktekan Islam. Sebagian orang pulang dari pesta pernikahannya yang digelar secara Kristen untuk melakukan upacar pernikahan ala Islam secara diam-diam. Banyak orang yang menggunakan nama Kristen sebagai nama publik, tetapi secara pribadi mereka menggunakan nama Islam. Pada 1501 dikeluarakn sebuah dekrit kerajaan yang menyatakan bahwa semua Muslim di Castile dan Leon harus memeluk agam Kristen. Kalau tidak mereka akan diusir dari Spanyol. Pada 1556 , Philip II menetapkan sebuah hukum yang mewajibkan semua muslim untuk meninggalkan bahasa, pribadatan, institusi, dan cara hidup mereka. Dia bahan memerintahkan agar pemandian-pemandian peninggalan Islam di Spanyol dihancurkan, karena bagian dari kekafiran.

Perintah pengusiran terakhir ditandatangani oleh Philip III pada tahun 1609, yang mengakibatkan deportasi en masse secara paksa atas hampir semua orang Muslim di Spanyol. Dikisahkan bahwa sekitar setengah juta Muslim mesti merasakan nasib ini dan mendarat di pantai-pantai Afrika, atau berpetualang menuju negeri-negeri Islam yang lebih jauh. Antara kejatuhan Granada sampai dekade pertama abad ke-17, diperkirakan bahwa sekitar tiga juta muslim dibuang, atau dihukum mati.

Kini persoalan kaum Moor telah terpecahkan selamnya bagi Spanyol. Inilah yang menjadi sebuah pengecualian dari fenomena lazim bahwa di manapun perdaban Arab tertanam, maka di situ akan terus hidup. Kini orang-orang Arab (Moor) dibuang. Untuk sementara Spanyol Kristen bersinar, seperti bulan, dengan cahaya pinjaman. Lantas munculah gerhan, dan dalam kegelapan itu Spanyol tenggelam untuk elama-lamanya.

Disarikan dari bukunya Philip K. Hitti, Hitory Of The Arabs

Untuk melihat Film hari-hari trakhir Granada (film Spanyol), klik di sini.

Tulisan Mahasiswa

Benarkah Ahli Surga Akan Berbicara dengan Bahasa Arab?

Published by:

Oleh: Gun Gun Gunawan

1321312953805192057Ada sebuah hadist Nabi SAW. yang berbunyi “Aku mencintai Arab karena tiga hal: karena aku orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa Arab adalah bahasa penduduk Surga.” (HR: Thabrani). Banyak ulama yang mengatakan bahwa hadits ini dhaif, bahkan sebagian menyatakan palsu. Namun imam as-Suyuthi dalam Jamiu Shagir-nya memasukan hadits ini dengan derajat shahih.

Riwayat tentang bahasa Arab yang paling tinggi derajatnya hanya sampai mauquf ke Umar bin Khatab RA, tentang perkataanya “Pelajarilah bahasa Arab, karena ia adalah separoh agamamu.” Dalam riwayat lain disebutkan “bagian dari agamamu”. Penejelasan ini bersumber dari Musnad Firadus ad-Dalimi. Ada pula hadits mauquf yang sampai ke Ali bin Abi Thalib yang berbunyi “bahasa Arab adalah bahasa Surga.” Hadits ini di-dhaifkan oleh az-Zahabi.

Ketika ditanya tentang bahasa penduduk surga, Ibnu Taimiyah menjawab dalam Majmu Fatawa-nya, bahwa tidak bisa diketahu bahasa apa yang digunkan kelak di surga. Karena tidak ada keterangn dari al-Qur’an maupun Hadits. Tidak pernah juga didengar dari sahabat bahwa bahasa Arab adalah bahasa penduduk surga. Namun, menurut beliau ada perbedaan pendapat di antara para ulama khalaf. Ada yangaberpendapat bahwa penduduk surga akan berbicara dengan bahasa Arab, sedangkan penduduk neraka akan berbicara dengan bahasa Persia.

Beberapa pendapat mengatakan, penduduk Surga akan berbicara dalam bahasa Suryani sebagaiana dipakai oleh Nabi Adam AS dan diyakini bahwa semua bahasa berasal dari bahasa ini. Namun, masih menurut Ibnu Taimiyah, semua pendapat itu tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak bersumber dari al-Qur’an maupun Hadits.

Secara sekilas, Hadits di atas seakan mengkampanyekan “Arabisasi” dalam segala hal. Padahal, Nabi SAW diutus untuk seluruh bangsa di dunia. Dan orang-orang Islam yang shaleh bisa masuk surga meskipun tidak bisa berbahasa Arab.

Secara logika, memang bahasa Arab bisa menjadi salah-satu Media untuk mengantarkan orang masuk surga. Bahasa Arab ibarat kunci untuk membuka ilmu-ilmu pengetahuan Islam. Al-Qur’an dan Hadits adala sumber-sumber hukum Islam yang paling Asli dan berbahasa Arab. Begitu juga para ulama mengarang kitab-kitab keislaman dalam bahasa Arab. Artinya orang akan memahami islam dengan sempurna jika ia menguasai bahasa Arab.

Dalam Iqtidha as-Shirath al-Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata” Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri termasuk dari bagian agama Islam. Mempelajarinya adalah wajib, sebab mempelajari al-Qur’an dan Sunah adalah wajib hukumnya, sementara keduanya tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan memahami bahasa Arab. Kewajiban yang tidak akan sempurna dengan suatu wasilah, maka masilah tersebut ikut menjadi wajib hukumnya.

Referensi:

Ad-Dailamy.2012. Istilah-istilah Penting Ilmu Nahwu (Terjemahan). Boyolali: Pustaka al-Mulk.

Putra, Hannan. Bahasa Penduduk Surga. Republika: Dialog Jumat edisi 7 November 2014.

 

Selayang Pandang

Visi dan Misi Qis’ar UNS

Published by:

Visi : Berusaha menjadikan dan mewujudkan HMJ Qis’ar sebagai wadah kekeluargaan yang membentuk kesolidan antar pengurus anggota dan seluruh mahasiswa Sastra Arab UNS.
Misi : 1. Menumbuhkan suasana kekeluargaan antara pengurus dan anggota
2. Meningkatkan kesolidan antar pengurus dan anggota
3. Menjalin hubungan kerja sama, baik internal lembaga maupun eksternal lembaga
Melalui visi dan misi tersebut, Qis’ar berusaha untuk menggapai semua tujuan awal dibukanya jurusan ini, yaitu terwujudnya prestasi-prestasi demi pengembangan ilmu dengan diikuti oleh jiwa kekeluargaan dalam keanggotaan.

Selayang Pandang

Pendirian Jurusan Sastra Arab di Universitas Sebelas Maret

Published by:

A. LATAR BELAKANG
dubes-mesir-mhs-2010Bahasa Arab merupakanbahasainternasionalsehinggamenjadisalahsatubahasaPerserikatanBangsa-Bangsa (PBB). Di sampingitu, bahasa Arab adalah bahasaAlquransehinggasetiapmuslimbersandarkepadakitab yang berbahasa Arab dengantujuan agama ataupunilmupengetahuan. Sebagaibahasainternasional, bahasa Arab diperlukanolehmasyarakat Indonesia dalamhubungankomunikasidenganmasyarakatduniakhususnya masyarakat Arab/Timur Tengah. Olehkarenaitu, untukmenjembatanihubunganitudiperlukankemampuan orang-orang terdidikuntukmenguasaibahasa Arab sebagaimediumnya.Tuntutanterhadapbahasainijuga dilatarbelakangiolehsituasidankondisi global duniadimanahubunganantara Indonesia dannegara-negara Arab membutuhkankerjasamadan komunikasi yang efektifdalamberbagaimasalah, misalnyadalambidangdiplomasi, politik, ekonomi, budaya, pendidikandanpariwisata.
FakultasSastradanSeniRupaUniversitasSebelasMaret Surakarta sebagaiinstitusipendidikan yang berwawasaninternasional (World Class University) dituntutuntukmengembangkanjaringanakademiknyasecaralebihluasdanmenjalinhubungandenganpubliksecaranasionalmaupuninternasional.Konservasijurusan yang ada di fakultasSastradanSeniRupadiarahkanuntukmemperkuatdualokuspenting, pertamauntukmemilikijaringankerjasamasecaranasional yang kuatkhususnyadenganlembaga-lembagapemerintahandan non pemerintahan, dankedua, FakutasSastradanSeniRupasudahsaatnyakinimembukadiridanmengambilperanaktifdalammembangunkerjasamadanmenunjukkankiprahnyadenganmasyarakatTimur Tengah.
Dalamupayamencapaikerjasamatersebutbahasa Arab harusdirealisasikanuntukkepentingan-kepentingan yang bersifatteknisdankomunikatif, halinibertujuanuntukmenjaminbahwatugas-tugaskebahasaan yang dijalankanbersifatkomprehensif, yaitumemilikiperanandalammenangkapmakna-makna ideal namuntidakmenjebaksipenggunabahasa larut dalamperasaankebanggaanberbahasaitusendiri (ubbahah). Lebihlanjutrealisasi program itudimungkinkanuntukmenjembataniperananakdidikbangsauntukmencapaikepentingankemanusiaan yang lebihkonkret.
Denganterwujudnyahubungan yang eratantaralembagapendidikan dilingkunganJurusanSastra Arab FakultasSastradanSeniRupaUniversitasSebelasMaret Surakarta denganlembaga-lembagapemerintah di Timur Tengah, makakebutuhantenaga yang mampumemahamikeduabahasatersebutsecaratimbalbaliksemakinbertambah pula.
B. VISI
Menjadipusatstudibahasa, Sastradanbudaya Arab yang unggulpadatarafnasionaldaninternasionalberlandaskanpadaprofesionalisme, mutu, dandayasaing yang tinggi.
C. MISI

  1. MenyelenggarakanPendidikandanPengajaran yang bertumpupadasuasanaakademik yang sehat, dinamis, danterpaduantarakegiatankurikuler, ekstrakurikulerdenganmemanfaatkansaranainformasidanteknologi sertasumber-sumberinformasi yang memadaisesuaidengankebutuhan zaman.
  2. Melaksanakanpenelitian yang berorientasipadapengembanganwawasan, kemampuan dan keahlianbahasa, sastra, dan budaya Arab.
  3. Menyelenggarakankegiatanpengabdianpadamasyarakat yang berorientasipadapemberdayaanmasyarakatberbasispadapengetahuandankebudayaan Arab.

C. TUJUAN
TujuandibukanyaJurusanSastra Arab adalahsebagaiberikut:
1. Menghasilkanlulusan yang terampildalammenggunakanbahasa Arab untukberbagaikepentingan yang berkaitandenganIlmu-ilmuhomaniorasepertibahasa, agama, Seni, filsafatbudayadankepentingan-kepentinganpraktisdalamkomunikasi.
2. Mendorongterciptanyasuasanaakademikdansemangatbelajarbagipengajardanmahasiswadidikdalammempelajariilmu-ilmukebahasaan, kesusasteraan, dankebudayaan Arab.
3. Menghasilkanlulusan yang profesional bermoral, danmenguasaiberbagaiteoridasarkeilmuansertamampumengembangkanilmu-ilmu Arab secarateoridanpraktekmelaluipenelitiandanpenalaranmelalui forum ilmiahdanlapangan.
4. Menciptakanlembaga yang dapatdipercayaolehmasyarakatsebagaipusatpembelajaran, penelitiandanpengabdianbagimasyarakat yang mampumenjembatanihubunganantarakepentinganpendidikan di Indonesia dannegara-negaraTimur Tengah.

Selayang Pandang

Selayang Pandang

Published by:

HMJ SASTRA ARAB UNS

QISMUAL-ADAB AL-ARABIY (QIS’AR)

 

10154205_1377989939154114_783143996389001490_nSastra Arab UNS merupakan sebuah jurusan yang dibuka dengan tujuan menghasilkan lulusan yang terampil dalam menggunakan bahasa Arab untuk berbagai kepentingan yang berkaitan dengan ilmu-ilmu humaniora seperti bahasa, agama, seni, filsafat, budaya, dan kepentingan-kepentingan praktis dalam komunikasi.

Semua jurusan atau prodi dalam setiap fakultas memiliki pengurus anggota yang biasa disebut Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Jurusan Sastra Arab UNS sendiri memiliki nama khusus untuk HMJ Sastra Arab, yaitu Qismu Al-Adab Al-Arabiy, atau disingkat Qis’ar.

Untuk periode kepengurusan tahun 2014/2015, seluruh mahasiswa Sastra Arab UNS mengangkat saudara Sigit Muladi yang merupakan mahasiswa angkatan 2012 sebagai ketua umum Qis’ar.