Tulisan Mahasiswa

Granada yang Kelabu: Hari-Hari Terakhir Ketika Islam dan Peradabannya Tercabut dari Bumi Spanyol

Oleh: Gun Gun Gunawan

Semenjak runtuhnya kehalifahan banu Umayah di Cordoba abad ke 11, saat itu pula penaklukan kembali (reconquista) oleh kaum Kristen dimulai. Saat itu andalusia terbagi menjadi  beberapa kerajaan kecil (a-muluk at-thawaif) yang saling bermusuhan.  Pada abad ke -13, kondisi ini dimanfaakan oleh kerajaan Castil dan Leon yang baru bersatu untuk menghancurkan peradaban arab-islam untuk selama-lamanya. Pada pertengahan abad ke -13 penaklukan itu hampir sukses, hanya Granada yang masih dikuasai oleh Muslim. Toledo direbut pada 1085, diikuti Cordoba pada 1236, dan Seville pada 1248.

Perkawinan Ferdinad dari Aragon dan Isabela dari Castile tahun 1469 merupakan lonceng kematian bagi kekuasaan Islam di Spanyol yang terakhir, Granada. Para Sultan Nashiriah, sultan-sultan Granada sama-sekali tidak bisa menanggulangi bahaya ini. Para sultan terebut terlibat konflik internal yang menyebabkan mereka semakin lemah. Ditengah-tengah konflik intrenal dan perang sudara, pasukan Ferdinand-Isabela merensek masuk dan merebut kota-kota Granada. Kota-kota dihancurkan dan penduduknay dijadikan budak. Tidak mmapu menghadapi pasukan Kristen, sultan Granada al-Zaghall menyeru raja-raja muslim di afrika untuk mambantunya, namum permintaan ini tidak terkabul, karena mereka sedang sibuk dengan perang diantara mereka sendiri. Akhirnya ia menyerah dan ditawan hingga akhir hayatnya.

al-Hambra-Granada, benteng pertahanan terakhir Muslim di Spanyol

Setelah al-Zaghalll dikalahkan, Abu Abdullah (Boabdil) diminta untuk mnyerahkan Granada kepada Kristen. Namun ia menolak hingga Ferdinand mengirim pasukan dengan 10 Ribu kuda untuk kembali menyerang Granada. Seperti penyerangan sebelumnya ia menghancurkan ladang pertanian dan kebun buah-buahan, kemudian mengepung benteng terakhir pertahanan umat Islam di Spanyol dengan sangat ketat. Saat musing dingin terus bergerak membawa hawa dingin dan salju tebal, seluruh jalan masuk dari luar dipalang, makanan menjadi sangat jarang, harga-haraga membumbung tinggi, dan kemelaratan merabak. Semetara itu pasukan Kristen telah merebut seluruh tanah diluar tembok kota, sehingga pihak yang dikepung tidak bisa bercocok tanam atau memperoleh hasil panen. Kondisi kian memburuk, hingga pada bulan Desember 1491 kesengsaraan mencapai puncaknya.

Akhirnya pasukan Muslim sepekat menyerah dan diberi waktu 2 bulan untuk meninggalkan Granada, dengan persyaratan bahwa sultan dan seluruh pejabatnya harus mengucapkan sumpah setia kepada raja-raja Kristen, Sultan Boabdil akan diberi sebidang tanah di Alpujjaras, dan orang islam akan dijamin kebebasan beragamanya. Ketika genjatan sejata berakhir dan tidak ada tanda-tanda serangn dari Turki maupun Afrika, orang Castile mulai memasuki Granada pada 2 Januari 1492. Setelah Salib-salib mengantikan bulan Sabit di menara-menara di kota itu.

Sultan beserta ratunya, dengan mengenakan pakaian bagus meninggalkan benteng merahnya-al-Hambra-ditengah-tengah rombongan megah untuk tidak pernah kembali. Saat beranjak pergi, Ia menolehkan wajhanya sejenak, melayangkan pandangan terakhirnya ke ibukotanya itu, menarik nafas panjang, dan akhirnya ledak dalam tangis. Dikisahkan bahwa Ibu sang Sultan menatp kepadanya dan berkata “Kau bisa menangis dengan baik layaknya seorang perempuan atasa semua yang  tidak bisa kau pertahankan sebagai seorang laki-laki. Dataran tinggi berbatu tempat sultan melayngkan pandangan terakhir yang mnyedihkan itu dikenal sampai sekarang dengan nama El Ultimo Suspiro del Moro, desahan terakhir sang Moor.  Pada mulanya sultan Boabdil tinggal di tanah yang telah dijatahkan untuknya, tetapi kemudian pergi memencilkan diri ke Fes, Maroko samapi akhir hayatnya pada tahun 1533.

Boabdil, Sultan terakhir Granada

Raja tertinggi Kristen, Ferdinand dan Isabela melanggar perjanjian yang telah disepakati. Di bawah kepimimpinan seorang pendeta kepercayaan sang ratu, Kardinal Ximenez de Cisneros, sebuah kampanye untuk memaksa perpindahan agama dijalankan pada 1499. Buku-buku berbahasa Arab ditarik dari peredaran dan dibakarnya. Granada menjadi medan api unggun tempat pembakaran naskah-naskan Arab. Inquisi ini kemudian dilembagakan dan terus dijalankan. Semua Muslim yang tetap tinggal di Granada setelah penaklukan Kristen disebut Moriscos, sbuah ama yang awalnya diterapkan untuk orang-orang Spanyol yang memeluk Islam. Orang Spanyol muslim berbicara dalam bahasa Romawi tetapi menulis dalam aksara Arab. Banyak orang Spanyol muslim “diingatkan” bahwa leluhur mereka adalah Kristen, dan harus tunduk pada baptisme, atau kalau tidak mereka akan merasakan akibat buruknya.

Orang Arab, maupun Muslim Spanyol yang tetap berpegang teguh pada Islam tetap menjalankanya dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengaku kristen tetapi secara diam-diam mempraktekan Islam. Sebagian orang pulang dari pesta pernikahannya yang digelar secara Kristen untuk melakukan upacar pernikahan ala Islam secara diam-diam. Banyak orang yang menggunakan nama Kristen sebagai nama publik, tetapi secara pribadi mereka menggunakan nama Islam. Pada 1501 dikeluarakn sebuah dekrit kerajaan yang menyatakan bahwa semua Muslim di Castile dan Leon harus memeluk agam Kristen. Kalau tidak mereka akan diusir dari Spanyol. Pada 1556 , Philip II menetapkan sebuah hukum yang mewajibkan semua muslim untuk meninggalkan bahasa, pribadatan, institusi, dan cara hidup mereka. Dia bahan memerintahkan agar pemandian-pemandian peninggalan Islam di Spanyol dihancurkan, karena bagian dari kekafiran.

Perintah pengusiran terakhir ditandatangani oleh Philip III pada tahun 1609, yang mengakibatkan deportasi en masse secara paksa atas hampir semua orang Muslim di Spanyol. Dikisahkan bahwa sekitar setengah juta Muslim mesti merasakan nasib ini dan mendarat di pantai-pantai Afrika, atau berpetualang menuju negeri-negeri Islam yang lebih jauh. Antara kejatuhan Granada sampai dekade pertama abad ke-17, diperkirakan bahwa sekitar tiga juta muslim dibuang, atau dihukum mati.

Kini persoalan kaum Moor telah terpecahkan selamnya bagi Spanyol. Inilah yang menjadi sebuah pengecualian dari fenomena lazim bahwa di manapun perdaban Arab tertanam, maka di situ akan terus hidup. Kini orang-orang Arab (Moor) dibuang. Untuk sementara Spanyol Kristen bersinar, seperti bulan, dengan cahaya pinjaman. Lantas munculah gerhan, dan dalam kegelapan itu Spanyol tenggelam untuk elama-lamanya.

Disarikan dari bukunya Philip K. Hitti, Hitory Of The Arabs

Untuk melihat Film hari-hari trakhir Granada (film Spanyol), klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *