Khabar Qis'ar

Raih 5 Trophy, Mahasiswa Sastra Arab Harumkan UNS di Ajang MYF UII 2015

Published by:

IMG_3609a

Mahasiswa Jurusan Sastra Arab UNS meraih lima trophy dalam acara Moslem Youth Festival yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Selasa, (28/4) kemarin. Acara ini merupakan ajang bergengsi tingkat perguruan tinggi se-Jateng dan DIY yang diselenggarakan untuk mempererat silaturahmi antarperguruan tinggi di wilayah tersebut.

Jurusan Sastra Arab UNS mengirimkan 9 delegasi dengan perolehan juara sebagai berikut:

  1. Juara 2 Debat Bahasa Arab: Muhammad Yasir (2013), Istiqomah Annisa (2012), dan Tsanianada (2012).
  2. Juara 2 Tilawatil Qur’an: Ahmad Falahudin (2012)
  3. Juara 3 Fashion Show: Muhammad (2014) dan Vega Nur Almira (2013).
  4. Juara 1 Fotografi: Mustaqim (2013)
  5. Juara 3 Fotografi: Isti’anah (2013)

Acara berlangsung selama dua hari, dimulai pada hari senin dan diakhiri dengan malam puncak pada selasa malam. Penutupan malam puncak diisi dengan berbagai hiburan dari penampilan beberapa UKM. Selain itu, lomba Fashion Show juga diadakan pada malam itu, sebagai penutup lomba-lomba sebelumnya. Sesi yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman pemenang lomba,  disampaikan di sela-sela penampilan hiburan dan penampilan peserta Fashion Show.

Hampir semua bidang lomba dijuarai oleh delegasi UNS. Meskipun tidak semua peserta berhasil menjadi juara, perolehan  prestasi ini telah memberikan semangat mereka untuk tetap berprestasi di ajang lomba-lomba berikutnya. Dengan meraih lima kejuaraan tersebut, mereka telah mengharumkan almamater UNS, khususnya Fakultas Ilmu Budaya dan Jurusan Sastra Arab yang baru berdiri  empat tahun silam. (Mus)

Khabar Qis'ar

Teater Oase Sastra Arab UNS Terkenal di UGM

Published by:

1536699_10201124183175831_1307116188_n

Salah satu adegan dalam Drama “Tragedi Harut Marut”

Teater Oase adalah sebuah teater yang dikelola oleh mahasiswa Jurusan Sastra Arab FIB UNS. Baru berdiri 2 tahun, Oase sukses mementaskan dua drama berbahasa Arab yang mengundang banyak penonton. Drama pertama yang pentaskan berjudul “Tragedi Harut Marut” yang dipentaskan pada Desember 2013. Sementara drama kedua yang berjudul “Ahlul Kahfi” sukses dipentaskan pada Desember 2014 lalu.

Drama-darama yang dipentaskan Oase berhasil menyedot perhatian mahasiswa tidak saja di wilayah Soloraya, tetapi juga di Yogyakarta. Bahkan di kalangan mahasiswa Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM) Teater Oase begitu terkenal. Saat kunjungan studi banding HMJ Qis’ar ke IMABa UGM Sabtu (9/5) lalu, mahasiswa UGM banyak yang antusias bertanya tentang Oase. Hamper 99 % pertanyaan yang diajukan mahasiswa UGM isinya seputar Oase.  Ketua IMABA UGM 2014, Tohir Mustofa, mengatakan bahwa IMABA menginginkan pada suatu saat teater ini bisa tampil di acara-acara UGM.

“Kita di sini sudah pada tahu Teater Oase, setiap UNS ngadain pentas kami selalu antusias nonton. Pas FKA (Festifal Kebudayaan Arab) UGM kemarin (2014) kami sempat berniat mengundang teman-teman Oase untuk tampil disini. Tetapi berhubung UNS juga menjadi peserta FKA, kami khawatir mengganggu teman-teman UNS. Tetapi kami berharaf suastu saat nanti Oase bisa tampil di acara-acara kami” Ujar mahasiswa ngkatan 2012 ini. (gungun)

Khabar Qis'ar

7 Mahasiswa Sastra Arab Sabet Gelar Juara pada MTQ UNS II 2015

Published by:

11047929_1641721492723982_4150596814070838143_o

Pada  Musabaqah Tilwatil Quran (MTQ) UNS II  (29 April 2015 – 1 Mei 2015) yang diselengarakan oleh UKM Ilmu Alquran (IQ),  7 Mahasiswa Sastra Arab berhasil menyabet    gelar juara  dari  9 cabang yang dilombakan. Cabang-cabang lomba itu adalah, Tartil Quran, Fahmil Quran dan Hifdzil Quran.  Ketujuh mahasiswa tersebut adalah:

1.       Dedy Darmawan Nasution-Juara 1 Tartil Quran

2.       Gun Gun Gunawan, Abdul Natsir Al-Afghani, Azmil Fikri A- Juara 1 Fahmil Quran

3.       Ahmad Falahudin-Juara 1 Hifdzil Quran 1 Juz kategori putera

4.       Muhammad Muslih-Juara 3 Hifdzil Quran 1 Juz kategori putera

5.       Rif’an Yisa-Juara 2 Hifdzil Quran 5 Juz

Bagi juara 1 masing-masing lomba akan mewakili UNS dalam MTQ Nasioanal di Universitas Indonesia (UI) Agustus mendatang. (red_gungun)

Khabar Qis'ar

Studi Banding ke UGM, Ketua IMABA: Sastra Arab UNS dan Sastra Arab UGM adalah Saudara

Published by:

CEiYclcUEAEXZ4I

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS), Qismu Al-Adab Al-Arabiy (Qis’ar) melakukan studi banding ke HMJ Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM),  Sabtu (9/5) kemarin.  Rombongan Qis’ar diterima oleh HMJ Sastra Arab UGM, Ikatan Mahasiswa Sastra Asia Barat (IMABA) di salah-satu ruang sidang Fakultas Ilmu Budaya. Acaraberlangsung dengan khidmat dan kekeluargaan.

HMJ Sastra Arab UGM dipilih sebagai tujuan studi banding karena Sastra Arab UGM dinilai sudah berdiri cukup lama  dan sudah berpengalaman dalam mengembangkan keilmuan kearaban.Ketua Umum  HMJ Qis’ar, Habib Rizqy Wahyu A,  dalam sambutannya mengatakan bahwa tujuan dari studi banding ini adalah untuk menjalinsilaturahim dan menimba ilmu serta pengalaman dari IMABA UGM yang sudah lama berdiri dan sudah banyak menyelenggarakan acara-acara besar.

”Kita ketahuibersama bahwa Sastra Arab UGM ini sudah sukses menyelenggarakan acara-acara besar bergengsis eperti FKA (Festival Kebudayaan Arab_red). Sementara jurusan kami adalah jurusan baru yang perlu menimba ilmu dari teman-teman UGM ini” Imbuhnya sebelum mengakhiri sambutan.

Sementara itu Ketua IMABA UGM, Tohir Mustofa mengatakan bahwa Sastra Arab UNS dan Sastra Arab UGM adalah saudara. Menurutnya,  selain sebagai sesama pembelajar Arab, kedua belah pihak juga sering berinterkasi dalam berbagai kegiatan. Mahasiswa angkatan 2012 ini mencontohkan bagiamana antusiasme Sastra Arab UNS dalam mengikuti FKA dan bagimana antusiasmeS astra Arab UGM dalam mengapresiasi pertunjukan drama berbahasa Arab yang diselengarakan setiaptahun oleh Teater Oase Sastra Arab UNS.

“Kita ini bukan temanlagi, lebih dariitu. Kita adalah saudara”. Ujarnya.

Dalam acara ini IMABA UGM berbagi pengalamant entang bagaimana membangun HMJ dan menyelenggarakan acara-acara besar seperti Festival Kebudayaan Arab dan lain-lain. Sementara itu rombongan Qis’ar UNS mengikuti acara ini dengan penuh antusias. Acara pun jadi hangat dan mirip diskusi. (red_gungun)

 

Tulisan Mahasiswa

Granada yang Kelabu: Hari-Hari Terakhir Ketika Islam dan Peradabannya Tercabut dari Bumi Spanyol

Published by:

Oleh: Gun Gun Gunawan

Semenjak runtuhnya kehalifahan banu Umayah di Cordoba abad ke 11, saat itu pula penaklukan kembali (reconquista) oleh kaum Kristen dimulai. Saat itu andalusia terbagi menjadi  beberapa kerajaan kecil (a-muluk at-thawaif) yang saling bermusuhan.  Pada abad ke -13, kondisi ini dimanfaakan oleh kerajaan Castil dan Leon yang baru bersatu untuk menghancurkan peradaban arab-islam untuk selama-lamanya. Pada pertengahan abad ke -13 penaklukan itu hampir sukses, hanya Granada yang masih dikuasai oleh Muslim. Toledo direbut pada 1085, diikuti Cordoba pada 1236, dan Seville pada 1248.

Perkawinan Ferdinad dari Aragon dan Isabela dari Castile tahun 1469 merupakan lonceng kematian bagi kekuasaan Islam di Spanyol yang terakhir, Granada. Para Sultan Nashiriah, sultan-sultan Granada sama-sekali tidak bisa menanggulangi bahaya ini. Para sultan terebut terlibat konflik internal yang menyebabkan mereka semakin lemah. Ditengah-tengah konflik intrenal dan perang sudara, pasukan Ferdinand-Isabela merensek masuk dan merebut kota-kota Granada. Kota-kota dihancurkan dan penduduknay dijadikan budak. Tidak mmapu menghadapi pasukan Kristen, sultan Granada al-Zaghall menyeru raja-raja muslim di afrika untuk mambantunya, namum permintaan ini tidak terkabul, karena mereka sedang sibuk dengan perang diantara mereka sendiri. Akhirnya ia menyerah dan ditawan hingga akhir hayatnya.

al-Hambra-Granada, benteng pertahanan terakhir Muslim di Spanyol

Setelah al-Zaghalll dikalahkan, Abu Abdullah (Boabdil) diminta untuk mnyerahkan Granada kepada Kristen. Namun ia menolak hingga Ferdinand mengirim pasukan dengan 10 Ribu kuda untuk kembali menyerang Granada. Seperti penyerangan sebelumnya ia menghancurkan ladang pertanian dan kebun buah-buahan, kemudian mengepung benteng terakhir pertahanan umat Islam di Spanyol dengan sangat ketat. Saat musing dingin terus bergerak membawa hawa dingin dan salju tebal, seluruh jalan masuk dari luar dipalang, makanan menjadi sangat jarang, harga-haraga membumbung tinggi, dan kemelaratan merabak. Semetara itu pasukan Kristen telah merebut seluruh tanah diluar tembok kota, sehingga pihak yang dikepung tidak bisa bercocok tanam atau memperoleh hasil panen. Kondisi kian memburuk, hingga pada bulan Desember 1491 kesengsaraan mencapai puncaknya.

Akhirnya pasukan Muslim sepekat menyerah dan diberi waktu 2 bulan untuk meninggalkan Granada, dengan persyaratan bahwa sultan dan seluruh pejabatnya harus mengucapkan sumpah setia kepada raja-raja Kristen, Sultan Boabdil akan diberi sebidang tanah di Alpujjaras, dan orang islam akan dijamin kebebasan beragamanya. Ketika genjatan sejata berakhir dan tidak ada tanda-tanda serangn dari Turki maupun Afrika, orang Castile mulai memasuki Granada pada 2 Januari 1492. Setelah Salib-salib mengantikan bulan Sabit di menara-menara di kota itu.

Sultan beserta ratunya, dengan mengenakan pakaian bagus meninggalkan benteng merahnya-al-Hambra-ditengah-tengah rombongan megah untuk tidak pernah kembali. Saat beranjak pergi, Ia menolehkan wajhanya sejenak, melayangkan pandangan terakhirnya ke ibukotanya itu, menarik nafas panjang, dan akhirnya ledak dalam tangis. Dikisahkan bahwa Ibu sang Sultan menatp kepadanya dan berkata “Kau bisa menangis dengan baik layaknya seorang perempuan atasa semua yang  tidak bisa kau pertahankan sebagai seorang laki-laki. Dataran tinggi berbatu tempat sultan melayngkan pandangan terakhir yang mnyedihkan itu dikenal sampai sekarang dengan nama El Ultimo Suspiro del Moro, desahan terakhir sang Moor.  Pada mulanya sultan Boabdil tinggal di tanah yang telah dijatahkan untuknya, tetapi kemudian pergi memencilkan diri ke Fes, Maroko samapi akhir hayatnya pada tahun 1533.

Boabdil, Sultan terakhir Granada

Raja tertinggi Kristen, Ferdinand dan Isabela melanggar perjanjian yang telah disepakati. Di bawah kepimimpinan seorang pendeta kepercayaan sang ratu, Kardinal Ximenez de Cisneros, sebuah kampanye untuk memaksa perpindahan agama dijalankan pada 1499. Buku-buku berbahasa Arab ditarik dari peredaran dan dibakarnya. Granada menjadi medan api unggun tempat pembakaran naskah-naskan Arab. Inquisi ini kemudian dilembagakan dan terus dijalankan. Semua Muslim yang tetap tinggal di Granada setelah penaklukan Kristen disebut Moriscos, sbuah ama yang awalnya diterapkan untuk orang-orang Spanyol yang memeluk Islam. Orang Spanyol muslim berbicara dalam bahasa Romawi tetapi menulis dalam aksara Arab. Banyak orang Spanyol muslim “diingatkan” bahwa leluhur mereka adalah Kristen, dan harus tunduk pada baptisme, atau kalau tidak mereka akan merasakan akibat buruknya.

Orang Arab, maupun Muslim Spanyol yang tetap berpegang teguh pada Islam tetap menjalankanya dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengaku kristen tetapi secara diam-diam mempraktekan Islam. Sebagian orang pulang dari pesta pernikahannya yang digelar secara Kristen untuk melakukan upacar pernikahan ala Islam secara diam-diam. Banyak orang yang menggunakan nama Kristen sebagai nama publik, tetapi secara pribadi mereka menggunakan nama Islam. Pada 1501 dikeluarakn sebuah dekrit kerajaan yang menyatakan bahwa semua Muslim di Castile dan Leon harus memeluk agam Kristen. Kalau tidak mereka akan diusir dari Spanyol. Pada 1556 , Philip II menetapkan sebuah hukum yang mewajibkan semua muslim untuk meninggalkan bahasa, pribadatan, institusi, dan cara hidup mereka. Dia bahan memerintahkan agar pemandian-pemandian peninggalan Islam di Spanyol dihancurkan, karena bagian dari kekafiran.

Perintah pengusiran terakhir ditandatangani oleh Philip III pada tahun 1609, yang mengakibatkan deportasi en masse secara paksa atas hampir semua orang Muslim di Spanyol. Dikisahkan bahwa sekitar setengah juta Muslim mesti merasakan nasib ini dan mendarat di pantai-pantai Afrika, atau berpetualang menuju negeri-negeri Islam yang lebih jauh. Antara kejatuhan Granada sampai dekade pertama abad ke-17, diperkirakan bahwa sekitar tiga juta muslim dibuang, atau dihukum mati.

Kini persoalan kaum Moor telah terpecahkan selamnya bagi Spanyol. Inilah yang menjadi sebuah pengecualian dari fenomena lazim bahwa di manapun perdaban Arab tertanam, maka di situ akan terus hidup. Kini orang-orang Arab (Moor) dibuang. Untuk sementara Spanyol Kristen bersinar, seperti bulan, dengan cahaya pinjaman. Lantas munculah gerhan, dan dalam kegelapan itu Spanyol tenggelam untuk elama-lamanya.

Disarikan dari bukunya Philip K. Hitti, Hitory Of The Arabs

Untuk melihat Film hari-hari trakhir Granada (film Spanyol), klik di sini.

Tulisan Mahasiswa

Benarkah Ahli Surga Akan Berbicara dengan Bahasa Arab?

Published by:

Oleh: Gun Gun Gunawan

1321312953805192057Ada sebuah hadist Nabi SAW. yang berbunyi “Aku mencintai Arab karena tiga hal: karena aku orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa Arab adalah bahasa penduduk Surga.” (HR: Thabrani). Banyak ulama yang mengatakan bahwa hadits ini dhaif, bahkan sebagian menyatakan palsu. Namun imam as-Suyuthi dalam Jamiu Shagir-nya memasukan hadits ini dengan derajat shahih.

Riwayat tentang bahasa Arab yang paling tinggi derajatnya hanya sampai mauquf ke Umar bin Khatab RA, tentang perkataanya “Pelajarilah bahasa Arab, karena ia adalah separoh agamamu.” Dalam riwayat lain disebutkan “bagian dari agamamu”. Penejelasan ini bersumber dari Musnad Firadus ad-Dalimi. Ada pula hadits mauquf yang sampai ke Ali bin Abi Thalib yang berbunyi “bahasa Arab adalah bahasa Surga.” Hadits ini di-dhaifkan oleh az-Zahabi.

Ketika ditanya tentang bahasa penduduk surga, Ibnu Taimiyah menjawab dalam Majmu Fatawa-nya, bahwa tidak bisa diketahu bahasa apa yang digunkan kelak di surga. Karena tidak ada keterangn dari al-Qur’an maupun Hadits. Tidak pernah juga didengar dari sahabat bahwa bahasa Arab adalah bahasa penduduk surga. Namun, menurut beliau ada perbedaan pendapat di antara para ulama khalaf. Ada yangaberpendapat bahwa penduduk surga akan berbicara dengan bahasa Arab, sedangkan penduduk neraka akan berbicara dengan bahasa Persia.

Beberapa pendapat mengatakan, penduduk Surga akan berbicara dalam bahasa Suryani sebagaiana dipakai oleh Nabi Adam AS dan diyakini bahwa semua bahasa berasal dari bahasa ini. Namun, masih menurut Ibnu Taimiyah, semua pendapat itu tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak bersumber dari al-Qur’an maupun Hadits.

Secara sekilas, Hadits di atas seakan mengkampanyekan “Arabisasi” dalam segala hal. Padahal, Nabi SAW diutus untuk seluruh bangsa di dunia. Dan orang-orang Islam yang shaleh bisa masuk surga meskipun tidak bisa berbahasa Arab.

Secara logika, memang bahasa Arab bisa menjadi salah-satu Media untuk mengantarkan orang masuk surga. Bahasa Arab ibarat kunci untuk membuka ilmu-ilmu pengetahuan Islam. Al-Qur’an dan Hadits adala sumber-sumber hukum Islam yang paling Asli dan berbahasa Arab. Begitu juga para ulama mengarang kitab-kitab keislaman dalam bahasa Arab. Artinya orang akan memahami islam dengan sempurna jika ia menguasai bahasa Arab.

Dalam Iqtidha as-Shirath al-Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata” Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri termasuk dari bagian agama Islam. Mempelajarinya adalah wajib, sebab mempelajari al-Qur’an dan Sunah adalah wajib hukumnya, sementara keduanya tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan memahami bahasa Arab. Kewajiban yang tidak akan sempurna dengan suatu wasilah, maka masilah tersebut ikut menjadi wajib hukumnya.

Referensi:

Ad-Dailamy.2012. Istilah-istilah Penting Ilmu Nahwu (Terjemahan). Boyolali: Pustaka al-Mulk.

Putra, Hannan. Bahasa Penduduk Surga. Republika: Dialog Jumat edisi 7 November 2014.