Drama Teater Oase Sastra Arab UNS: Ahlul Kahfi

SINOPSIS AHLUL KAHFI
(VERSI TAUFIK AL-HAKIM)
10854888_1535073523418014_495465497847540489_oDi antara gelapnya gua, nampak tiga orang pemuda tengah merintih setelah terbangun dari tidur panjangnya, sementara di pintu goa seekor anjing tengah menggeliat merenggangkan persendian kakinya yang terasa kaku. Mereka telah tertidur selama 309 tahun lamanya di gua itu semenjak usaha mereka untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara Dikyanus, seorang raja wilayah Thorsus yang sangat berambisi untuk membinasakan para penganut agama Masehi. Tak terkecuali dua orang dari ketiganya yang dulu merupakan dua menteri kepercayaan Dikyanus, Mislinia dan Marnus. Sementara yang satunya adalah Yimlikha, pengembala pemilik anjing yang telah membantu keduanya untuk melarikan diri. Demi persembunyian itu, Marnus rela meninggalkan keluarganya yang selama ini ia rahasiakan keberadaannya, hanya Mislinialah yang tahu. Sementara Mislinia ia harus meninggalkan sang kekasihnya, Priska, putri raja Dikyanus yang telah memeluk agama Masehi secara diam-diam. Mungkin Yimlikhalah yang paling beruntung di antara ketiganya, dia yang tak punya sanak saudara, hanya meninggalkan gembalaannya.
Rahasia keimanan kedua menteri itu diketahui oleh raja Dikyanus ketika seorang dayang menyerahkan sebuah surat Mislinia untuk Priska yang dititipkan kepadanya. Dalam surat itu Mislinia menyebutkan bahwa dia dan Marnus tengah melakukan sembahyang paskah.Semenjak terbangun ketiganya belum menyadari bahwa mereka telah tidur selama itu, hingga salah seorang dari mereka, Yimlikha memutuskan untuk keluar goa mencari makanan dan bertemu dengan seorang pemburu yang memakai pakaian asing. Saat Yimlikha menyerahkan perak untuk membeli buruannya, pemburu itu malah ketakutan dan berteriak “Harta Karun Dikyanus” sambil dengan cepat memacu kudanya menghilang dari pandangan Yimlikha. Dia baru menyadari kalau rambut dan kukunya sangat panjang dan kotor, lantas dengan segera ia beri tahu kedua temannya. Mereka mulai merasa ragu akan waktu yang telah mereka habiskan untuk tidur di dalam goa, satu minggu kah? Satu bulankah? Atau… entah berapa lama mereka telah tertidur. Di tengah kebingungan, mereka dikejutkan oleh suara keramaian dari luar goa. Orang-orang yang menyebut mereka sebagai “Pemilik Harta Karun” itu berteriak-teriak dan meminta ketiganya keluar dari dalam goa. Dengan berbekal cahaya obor mereka mencoba menerobos gelapnya goa. Sayangnya, mereka justru histeris ketika melihat ketiganya. Mereka menyangka ketiganya beserta anjing itu adalah hantu, makhluk yang telah mati. Orang-orang berlarian ke luar goa dengan meninggalkan obor begitu saja. Suasana hening kembali, hanya terlihat bayang-bayang mereka bertiga beserta seekor anjing, lewat pedaran cahaya obor.
Sementara di tempat lain, di sebuah istana tinggal seorang putri bernama Priska. Berdasarkan cerita dari gurunya, Ghaliyas, putri Priska menyerupai nenek moyangnya yang juga bernama Priska dari segi fisik dan keimanan. Dari Ghaliyas pula Priska tahu bahwa kalung salib yang tengah ia pakai adalah warisan dari nenek moyangnya itu. Namun Priska, gadis yang tengah beranjak dewasa itu selalu mengingkari cerita-cerita Ghaliyas mengenai kesamaan keimanannya dengan nenek moyangnya itu. Priska juga tak yakin dengan cerita Ghaliyas mengenai kesucian Priska nenek moyangnya yang tak ingin menikah karena ia telah terikat janji dengan Al-Masih. Priska beranggapan bahwa nenek moyangnya itu tengah menunggu seseorang yang dicintai hingga ajal menjemputnya di lobi istana, tempat ia selalu menunggu dan menunggu kedatangan orang itu.
Di suatu hari saat Priska dan Ghaliyas tengah terlibat diskusi serius mengenai mimpinya, terdengar kabar dari kota akan datangnya para pemuda Ahlul Kahfi dari goa Ar-Raqim. 3 orang dan yang ke-empat adalah anjingnya, Mislinia, Marnus, Yimlikha dan Khitmir si anjing tengah memasuki gerbang istana bersama pemburu dan orang-orang untuk bertemu sang raja. Ghaliyas yang mempercayai kisah Ahlul Kahfi sebagaimana kisah Urashima yang terjadi di Jepang, mengenai seseorang yang menghilang beberapa masa kemudian muncul kembali, segera mengajak sang Raja, Ayah Priska untuk menyambut kedatangan mereka. Ghaliyas berusaha meyakinkan Raja dan Putri Priska bahwa para ahlul kahfi itu adalah orang-orang suci yang kemunculannya sangat dinantikan, dan akan menjadi keberkahan tersendiri bagi masa dimana mereka muncul kembali. Pada awalnya sang raja percaya dan sangat bersemangat menyambut kedatangan para Ahlul Kahfi, namun kepercayaannya itu perlahan mulai goyah saat melihat keanehan tingkah laku ketiga ahlul kahfi tersebut. Selama ini raja beranggapan bahwa para orang suci itu tidak menginginkan dan memiliki apapun di dunia ini. Tapi pada kenyataannya salah satu dari mereka, Marnus justru minta izin untuk pulang menemui keluarganya, yang satu lagi, Yimlikha ingin mencari gembalaannya, sementara yang satu, Mislinia yang tengah bergemuruh hatinya karena melihat sang kekasih, Priska minta izin untuk bercukur dan merapikan diri. Mislinia belum tahu bahwa Priska yang ia temui itu bukanlah Priska pujaan hatinya di masa 309 tahun silam.
Kepergian Yimlikha ke luar istana untuk mencari gembalaannya telah membukakan tabir rahasia masa tidur mereka di dalam goa. Telah banyak perubahan yang terjadi di kota Thorsus, dan itu tidak mungkin terjadi hanya dengan beberapa minggu atau beberapa bulan saja. Yimlikha beranggapan bahwa kota itu bukan tempat baginya untuk tinggal, semua yang ada di sana asing baginya, itu bukan alamnya. Ia memutuskan untuk kembali ke goa bersama anjingnya, ia merasa hanya di sanalah tempat yang tepat baginya. Ia mulai menyadari bahwa dirinya adalah makhluk masa lampau yang terperosok dalam labirin waktu. Labirin waktu yang diciptakan tuhan untuk melindunginya dari pembataian dan menjadi saksi sejarah masa lampau.
Tak berselang lama, Marnuspun juga menyusul Yimlikha kembali ke dalam goa, tabir rahasia 309 tahun terbuka untuknya saat dia tengah pergi menyusuri kota untuk menemukan keluarganya. Seorang pengemis tua memberi tahu makam buyutnya yang telah lama hancur saat Marnus menyebutkan nama anaknya. Di makam itu tertera nama anak Marnus yang mati di usia 60 tahun setelah kemenangan tentara Romawi. Marnus mulai sadar bahwa ia telah hidup lebih dari 300 tahun. Ia mulai mempercayai ucapan Yimlikha yang tadinya ia ingkari. Ia menganggap dirinya hantu yang tak layak tinggal di alam ini. Sebagaimana Yimlikha ia menganggap bahwa ini bukan alamnya, Itulah mengapa ia memutuskan untuk kembali ke goa menyusul Yimlikha.
Lain halnya dengan Mislinia ia adalah orang terakhir yang dibukakan labirin masa yang penuh rahasia itu. Percakapannya dengan Priska di lobi istana itu telah menyadarkannya bahwa Priska yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Priska yang dulu, bukanlah Priska yang terikat janji dengannya 309 tahun yang lalu. Priska telah menyadarkan dirinya bahwa ia telah tertidur di di dalam gua 300 tahun lebih. Dengan keadaan hati yang hancur memendam kerinduan dan kebingungan Mislinia meninggalkan istana menyusul kedua temannya ke gua.
Di dalam goa, Yimlikha dan Marnus tengah merintih, merenggangkan nyawa mereka yang hendak memisahkan diri dari tubuh kedua manusia milik zaman itu. waktu telah melewati batas sinaps dan membukakan tabir rahasia yang tersimpan di baliknya. Tidak ada alasan bagi raga untuk tetap hidup melampaui zamannya. Mislinia adalah orang terakhir yang merenggangkan nyawanya di temani putri Priska yang mulai menyadari bahwa ia adalah bagian dari janji nenek moyangnya. Demi janji itu, ia rela mati bersama kekasih nenek moyangnya, di dalam goa Ar-Raqim yang gelap itu. Demi sebuah penghormatan terhadap orang-orang milik zaman itu atas permintaan putri Priska, raja dan Ghaliyas menutup pintu goa dan meninggalkan putri Priska bersama para Ahlul Kahfi di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website